Refleksi spiritualitas keseharian tentang keistiqomahan di tengah masyarakat
OLEH : MUH. GHAOS ZAENUR ROHMAN, S.SOS
Seringkali manusia terjebak dalam ilusi kemegahan spiritual. Kita mengira Allah SWT itu silau dengan angka-angka besar: sedekah jutaan rupiah, ibadah semalam suntuk sampai pagi, atau khatam Al-Qur’an dalam waktu singkat. Akibatnya, kita sering menunda kebaikan karena merasa belum punya modal besar, atau justru kehabisan tenaga di awal karena terlalu ambisius.
Padahal, jika kita mau menengok kembali bimbingan Kanjeng Nabi Muhammad SAW, rahasia kedekatan dengan Sang Pencipta bukanlah pada seberapa banyak kuantitas amal yang kita lakukan dalam satu waktu, melainkan pada seberapa setia kita mejanganya.
أَحَبَُ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
“Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang istiqomah, meskipun itu sedikit.”
— HR. Muslim
Mari kita bawa falsafah ini ke tengah realitas kehidupan sehari-hari di kampung atau kompleks perumahan kita. Coba amati dua potret manusia yang sering kita temui. Pertama, ada tipe dermawan musiman. Ketika usahanya sedang di puncak jaya atau mendapat rezeki nomplok, ia menyumbang pembangunan masjid sebesar lima juta rupiah sekaligus. Satu kampung gempar memuji kedermawanannya.
Namun, apa yang terjadi setahun atau dua tahun kemudian saat usahanya surut? Namanya lenyap dari daftar donatur, kotak amal dilewatinya begitu saja karena gengsi jika hanya menyumbang recehan. Bandingkan dengan potret kedua: seorang tukang ojek atau buruh harian biasa. Ia tidak punya uang jutaan rupiah untuk disumbangkan sekaligus. Tapi ia punya komitmen baja. Setiap habis Subuh, ia konsisten memasukkan uang dua ribu rupiah ke dalam kotak amal musala. Tidak pernah absen. Hujan, panas, kantong sedang pas-pasan atau longgar, nominal itu tetap mengalir konstan setiap hari tanpa putus.
“Ibadah itu ibarat pernapasan. Kita tidak mungkin menarik napas sedalam-dalamnya sekali saja, lalu menahannya seharian. Kita akan pingsan.”
CATATAN HIKMAH
“Di mata Allah SWT, siapakah yang lebih mulia dan dicintai? Jawabannya tentu yang dua ribu rupiah tapi istiqomah. Mengapa? Karena ibarat pernapasan, hidup ini butuh aliran yang kontinyu. Begitu pula agama. Islam itu mudah dan logis. Ibadah yang sedikit tapi rutin melatih mental kita untuk terus terhubung dengan Allah, bukan sekadar hamba musiman yang rajin kalau sedang mood atau punya kelebihan harta.”
Oleh karena itu, mulailah berdamai dengan amalan-amalan kecil. Punya amalan harian sekecil apa pun—entah itu istighfar sepuluh kali sebelum tidur, sedekah subuh seribu rupiah, atau sekadar menyebar senyum ramah pada tetangga—jika dijaga setiap hari, jauh lebih dicintai oleh-Nya daripada amal raksasa yang hanya dilakukan sekali seumur hidup. Yang penting jalan terus, sebab konsistensi adalah bentuk kesetiaan sejati seorang hamba.
Tangerang, 31 Oktober 2026

Tinggalkan Balasan