Memetik Keberkahan dan Menyambung Sanad: Peringatan Haul ke-105 KH. Abdul Majid di Cilacap Barat

Ditulis Oleh: Muh. Ghaos Zaenur Rohman, S. Sos
​1. Babat Alas Thoriqoh di Ujung Barat Jawa Tengah
​Suasana khidmat dan penuh keberkahan menyelimuti Desa Salebu, Kecamatan Majenang, Kabupaten Cilacap Barat pada Sabtu, 31 Oktober 2026. Ribuan jamaah dan santri berkumpul merayakan peringatan Haul ke-105 KH. Abdul Majid. Beliau adalah sosok ulama besar pejuang syiar Islam yang menjadi pembawa sekaligus babat alas (perintis) Ajaran Thoriqoh Kholidiyah Naqsyabandiyah di wilayah Cilacap Barat.
​Perjuangan KH. Abdul Majid dalam menanamkan panji-panji kerohanian di tanah Majenang digembleng dengan kesabaran, keikhlasan, dan kedalaman ilmu tasawuf. Dari buah perjuangan dan keikhlasan beliau, lahir keturunan yang meneruskan estafet dakwah Islam. Beliau dikaruniai 6 orang putra-putri yang kini tersebar di berbagai wilayah Nusantara, khususnya Pulau Jawa dan Sumatra.
​2. Silsilah & Mata Rantai Sanad yang Mutawassil
​Keagungan ajaran Thoriqoh Kholidiyah Naqsyabandiyah yang dibawa oleh KH. Abdul Majid memiliki mata rantai sanad keilmuan dan spiritual yang sangat kokoh dan bersambung (muttashil) hingga kepada Pendiri Thoriqoh Naqsyabandiyah, Syaikh Bahauddin Naqshabandi, melalui jalur ulama besar Makkah, Syaikh Sulaiman Zuhdi di Jabal Qubais, hingga bermuara kepada Rasulullah SAW melalui Sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq RA.
​Urutan Sanad Baiat Beliau:
1. ​Rasulullah SAW
2. ​Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq RA
3. ​(Menyambung hingga)Syaikh Bahauddin Naqshabandi (Pendiri Thoriqoh Naqsyabandiyah)
4. ​(Menyambung hingga)Syaikh Sulaiman Zuhdi (Jabal Qubais, Makkah Al-Mukarromah)
5. ​Syaikh Sholeh Muhtar (Senepo, Purworejo)
6. ​KH. Abdul Majid (Pembawa Thoriqoh ke Cilacap Barat / Salebu, Majenang)
​Estafet Kepemimpinan Silsilah Masyayikh Meneruskan KH. Abdul Majid:
* ​KH. Abdurrohman(Putra Beliau)
* ​KH. Bahrudin
* ​K.H. Mashuri
* ​Abah Sunhaji Abdurrohman(Hingga Sekarang)
​3. Kenapa Haul Itu Sangat Penting? (Penjelasan Khas Santri)
​”Kang, kenapa sih santri dan jamaah kok selalu ramai-ramai muliakeun (memperingati) Haul para Kiai dan Masyayikh tiap tahunnya?”
​Haul itu bukan sekadar perayaan seremonial atau kumpul-kumpul makan nampan bareng. Ada “rahasia besar” dan keutamaan spiritual di dalamnya:
1. ​Ngunduh Barokah (Ngalap Berekah): Para Wali dan Masyayikh adalah kekasih Allah. Dalam kitab-kitab turats sering disebutkan: “Inda dzikris-sholihin tanazalur-rahmah” (Ketika nama orang-orang shalih disebut, rahmat Allah akan turun). Saat peringatan haul digelar, ribuan shalawat, dzikir thoriqoh, dan Al-Qur’an dilantunkan, membuat tempat tersebut banjir dengan keberkahan melimpah.
2. ​Nge-cas Rohani & Menyambung “Setrum” Sanad (Tawassul): Ibarat HP yang baterainya habis kena urusan duniawi, hadir di acara Haul itu seperti nge-cas rohani. Santri dan jamaah menyambung batin (rabithah) kepada Guru dan Masyayikh. Sanad yang bersambung sampai Rasulullah SAW itu ibarat kabel utama penyalur nur (cahaya) keimanan. Melalui Haul, kita “mencolokkan” diri agar aliran berkah dan syafaatnya menyengat ke dalam hati kita.
3. ​Birrul Walidain kepada Sang Murabbi (Guru): Orang tua jasmani membesarkan fisik kita, tapi Kiai dan Masyayikh adalah orang tua rohani yang menyelamatkan akhirat kita. Memperingati haul adalah bentuk bakti (birrul walidain) dan terima kasih santri kepada guru yang telah menuntun dari kegelapan menuju cahaya ilmu.
4. ​Pengingat Mati (Dzikrul Maut) & Ajakan Istiqomah: Mengenang perjuangan al-Maghfurlah KH. Abdul Majid mengingatkan kita bahwa dunia ini sementara. Haul memecut semangat santri agar tidak lempoh (malas) dalam beribadah dan selalu istiqomah dalam amalan thoriqoh.

Foto Bersama Zdurriyah K.H Abdul MAjid Bersama K.H Said Asrori Magelang sesaat setelah mau’izhotul hasanah

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *